Selasa, 18 Juni 2013
1Komunikasi Intrapersonal
1Komunikasi Intrapersonal
Komunikasi intrapersonal adalah penggunaan bahasa atau pikiran yang
terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan. Komunikasi intrapersonal dapat menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lainnya. Pengetahuan mengenai diri pribadi melalui proses- proses psikologis seperti persepsi dan kesadaran (awareness) terjadi saat berlangsungnya komunikasi intrapribadi oleh komunikator. Untuk memahami apa yang terjadi ketika orang saling berkomunikasi, maka seseorang perlu untuk mengenal diri mereka sendiri dan orang lain. Karena pemahaman ini diperoleh melalui proses persepsi. Maka pada dasarnya letak persepsi adalah pada orang yang mempersepsikan, bukan pada suatu ungkapan ataupun obyek.
Aktivitas dari komunikasi intrapribadi yang kita lakukan sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi diantaranya adalah; berdo’a, bersyukur, instrospeksi diri dengan meninjau perbuatan kita dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas, dan berimajinasi secara kreatif. Pemahaman diri pribadi ini berkembang sejalan dengan perubahan perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Kita tidak terlahir dengan pemahaman akan siapa diri kita, tetapi prilaku kita
selama ini memainkan peranan penting bagaimana kita membangun pemahaman diri pribadi ini.
Kesadaran pribadi (self awareness) memiliki beberapa elemen yang mengacu pada identitas spesifik dari individu (Fisher 1987:134). Elemen dari kesadaran diri adalah konsep diri, proses menghargai diri sendiri (self esteem), dan identitas diri kita yang berbeda beda (multiple selves).
Unsur/elemen Komunikasi Intrapersonal :
a.Sensasi, proses menangkap stimulus pesan informasi (verbal maupun non verbal). Pada proses sensasi ini maka panca indera manusia dibutuhkan, khususnya mata dan telinga.
b.Persepsi, proses pemberian makna terhadap informasi yang ditangkap oleh sensasi.Pemberian makna ini melibatkan unsur subyektif. Contohnya, nyaman tidaknya proses komunikasi dengan orang yg kita ajak bicara.
c.Memori, proses penyimpanan informasi dan evaluasinya dalam kognitif individu. Kemudian informasi dan evaluasi komunikasi akan dikeluarkan atau diingat kembali dalam keadaan sadar maupun tidak sadar.
d.Berfikir, proses mengolah, memanipulasi informasi untuk memenuhi kebutuhan atau menyelesaikan masalah. Proses ini meliputi pengambilan keputusan, pemecahan masalah dan berfikir kreatif.
Herzberg’s two-factor theory
Herzberg’s two-factor theory
Teori ini fokus kepada dua macam penghargaan yaitu yang terkait dengan kepuasan kerja ( job satisfaction ) dan yang terkait dengan ketidakpuasan kerja ( job dissatisfaction ). Faktor-faktor yang terkait dengan kepuasan kerja disebut dengan motivator sedangkan yang terkait dengan ketidakpuasan kerja disebut dengan hygiene factors (Siegel dan Marconi, 1989). Contoh motivator adalah promosi, pengakuan, tanggung jawab, karakteristik pekerjaan, dan potensi untuk aktualisasi diri. Herzberg menggolongkan motivator sebagai faktor intrinsik karena terkait langsung dengan pekerjaan itu sendiri serta usaha dan kinerja individu (Hellriegel et al , 2001). Motivator akan mendorong individu untuk mencapai kepuasan kerja (Kreitner dan Kinicki, 2003).
Hygiene factors terkait dengan konteks dari suatu pekerjaan atau faktor lingkungan. Contohnya adalah keamanan kerja, gaji, kebijakan dan administrasi perusahaan, situasi kerja, dan hubungan antar karyawan dalam perusahaan. Hygiene merupakan faktor ekstrinsik karena terkait dengan perasaan negatif individu terhadap pekerjaan dan lingkungan kerja mereka. Faktor-faktor ini akan diberikan sebagai penghargaan hanya jika perusahaan mampu menampilkan kinerja yang tinggi (Hellriegel et al , 2001). Menurut Herzberg, individu tidak akan mengalami ketidakpuasan kerja apabila mereka tidak memiliki keluhan terhadap hygiene factors tersebut (Kreitner dan Kinicki, 2003).
komunikasi Teori kebutuhan (Need theory)
Teori Kebutuhan ( Need Theory )
1. Hirarki Kebutuhan Maslow ( Hierarchy of Needs )
Teori ini menyatakan bahwa terdapat 5 hirarki kebutuhan yang dimiliki oleh manusia yang menciptakan motivasi terhadap individu untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Maslow menyusun kebutuhan manusia ke dalam bentuk hirarki dari tingkatan yang paling mendasar hingga ke tingkatan tertinggi. Setelah seseorang memenuhi kebutuhan pada tingkatan paling dasar, maka kebutuhan di tingkatan berikutnya akan menjadi semakin penting, sehingga mampu mengarahkan perilaku seseorang untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Teori ini juga menyatakan bahwa setelah terpuaskan, maka kebutuhan tersebut tidak lagi menjadi motivator (Siegel dan Marconi, 1989). Berikut adalah susunan hirarki kebutuhan menurut Teori Maslow:
1. Kebutuhan dasar ( physiological needs )
2. Kebutuhan akan rasa aman ( safety needs )
3. Kebutuhan sosial ( social and belongingness needs )
4. Kebutuhan akan penghargaan ( esteem needs )
5. Kebutuhan akan aktualisasi diri ( self actualization needs )
Maslow memisahkan kebutuhan tersebut ke dalam urutan-urutan. Kebutuhan dasar dan kebutuhan akan rasa aman berada pada tingkatan bawah. Sedangkan kebutuhan sosial, kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan akan aktualisasi diri berada pada tingkatan atas. Pemisahan
kebutuhan ini dilakukan berdasarkan dasar pemikiran bahwa kebutuhan di tingkat bawah dipenuhi secara internal, dan kebutuhan pada tingkat atas dipenuhi secara eksternal. Teori kebutuhan Maslow memberikan fokus perhatian pada kebutuhan individual dan meyakini bahwa pemberian dorongan atau motivasi yang sama, belum tentu dapat memuaskan setiap individu.
Partisipasi anggaran membutuhkan keikutsertaan lebih banyak manajer dalam proses penyusunannya. Tidak hanya manajer tingkat atas, tetapi juga manajer tingkat menengah dan manajer tingkat bawah. Dengan adanya keterlibatan tersebut, mereka akan merasa lebih dihargai dan merasa bahwa ide-idenya dibutuhkan oleh organisasi. Hal ini sesuai dengan Teori Maslow yang menyatakan bahwa individu memiliki kebutuhan akan aktualisasi diri. Dengan adanya partisipasi dalam penyusunan anggaran, kebutuhan tersebut dapat terpenuhi melalui penghargaan terhadap ide-ide yang dikemukakan oleh manajer.
Langganan:
Postingan (Atom)